Penyakit Hepatitis B

Hepatitis B merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual dari cairan sperma (sexual transmitted disease/STD), darah atau cairan tubuh lain. Penyakit ini dapat menimbulkan penyakit serius dan mengakibatkan kerusakan hati yang dapat berakhir dengan kematian atau kanker hati. Hepatitis B terdiri dari antigen permukaan (surface antigen) yang disebut dengan antigen Australia, karena antigen ini pertama kali dijumpai di Australia.

Gambar : Virus hepatitis B

Masa inkubasi dari hepatitis B ini berkisar antara 45-180 hari dan lama masa inkubasi tergantung pada jumlah virus yang masuk ke dalam tubuh dan cara penularan serta daya tahan pasien. Penyakit ini sering dijumpai pada 30-50% pada usia > 50 tahun dan 10% pada usia  < 50 tahun. Keluhan pada penyakit hepatitis B : mual tidak nafsu makan, lemas, muntah, nyeri pada otot dan sendi, demam, kencing berwarna cokelat tua dan kulit berwarna kuning. Kebanyakan kasus dengan infeksi hepatitis B akan sembuh dalam waktu 6 bulan dan mengalami kekebalan. Di mana 15-20% akan menjadi hepatitis kronik atau penyakit hati menahun yang kemudian menjadi sirosis hati dan berkembang menjadi kanker hati.

Virus hepatitis B (VHB) adalah virus DNA yang bentuknya kompleks, mempunyai 2 lapis partikel disebut partikel Dane, merupakan lapisan permukaan VHB yang disebut HbsAg dan lapisan dalam pada intinya didapatkan hepatitis B core antigen (HbcAg). Di dalam inti dari genome viral terdapat DNA yang sirkuler dan double stranded.

Dengan adanya pemeriksaan penyaring pada darah transfusi, infeksi VHB berkurang sekitar 0,3-0,9% pada pasien yang mendapatkan transfusi. Angka kejadian infeksi VHB tinggi pada : pasien yang mendapatkan tranfusi berulang atau komponen darah yang berasal dari donor multipel, pasien dengan hemodialisi, pecandu narkoba, luka tusuk dnegan jarun suntik atau alat kesehatan lain yang telah terkontaminasi, akunpuntur, tatto, pegawai medis, transmisi dari ibu ke bayi dan penggunaan pisau cukur bersama penderita hepatitis B.

Infeksi dengan virus hepatitis B dapat berupa sembuh spontan, infeksi subklinis sampai akut dan fatal pada hepatitis fulminan (ganas). Untuk menegakkan diagnosis VHB dapat digunakan parameter dibawah ini :

-          Hepatitis B surface antigen (HBsAg)

-          Hepatitis B e antigen (HBeAg)

-          Hepatitis B e antibodi (anti-HBe)

-          Hepatitis B core antibodi (anti-HBc) total

-          Hepatitis B core antibodi (anti-HBc IgM)

-          Hepatitis B antibodi (anti-HBs)

 

 

Posted in Penyakit Hepatitis B | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Penyakit Hepatitis B Akut

Pada hepatitis B akut khas (typical) tampak keradangan akut di seluruh hati. Nekrosis sel hati ditandai dengan infiltasi leukosit serta histiosit. Nekrosis paling banyak di zona 3, sedangkan infiltasi sel radang paling banyak pada segitiga portal. Sinusoid menunjukkan infiltasi sel mononuklear, sel polimorf, dan eosinofil. Sel hati di zona 3 menunjukkan perubahan eosinifilik yang disebut “acidophil bodies”. Dapat dijumpai sel hati yang mengalami “balooning”, pleomorfisme, hialiniasasi dan sel raksasa yang berinti banyak. Kerangka retikulin umumnya masih utuh.

hepatitis-b-virus

Penderita dengan hepatitis virus akut dianjurkan untuk tirah baring sampai gejala ikterus hilang. Bagi penderita yang masih muda dan sehat, bisa diterapkan aturan yang lebih ringan, misalnya mereka bisa bangun bila badan terasa enak, tanpa melihat derajat ikterus. Setiap habis makan, pasien dianjurkan untuk beristirahat, demikian pula bila gejala penyakit muncul lagi.

Masa penyembuhan mulai bila sudah tidak ada gejala, tidak ada rasa nyeri di daerah hati dan bila kadar bilirubin serum < 1,5 mg%. Lama waktu penyembuhan diperkirakan dua kali dari periode tirah baring.

Kebanyaan penderita tidak perlu dirawat di rumah sakit, kecualo pada kasus yang berat. Demikian pula, tidak dipelrukan tirah baring total yang berkepanjangan. Bila dirawat dirumah sakit, penderita bisa dipulangkan bila gejala membaik, kadar transaminase dan kadar bilirubin serum sudah cenderung turun dan nilai waktu protrombin normal. Diet untuk penderita hepatitis akut adalah diet bebas. Pemberian vitamin dan obat lipotropik tidak diperlukan. Kortikosteroid hanya di perlukan pada kasus hepatitis akut tipe kolestatik.

Follow up dilakukan setiap 3-4 minggu setelah pulang, kemudian dilakukan pemeriksaan ulang setiap bulan sekali selama 3 bulan berikutnya. Berolahraga diperbolehkan sampai batas badan lemah, sedangkan alkohol harus dihindari selama 1 tahun.

Terapi hepatitis B akut fulminan dibagi menajdi 2 bagian yaitu terapi suportif dan terapi spesifik. Terapi suprotif terutama bertujuan untuk memberikan perawatan intensif pada organ tubuh di luar hati yang mengalami kegagalan fungsi, sehingga didapatkan kondisi yang optimal untuk hati, untuk berlangsungnya proses regenerai sambil menunggu terapi spesifik yaitu transplantasi hati. Dalam terapi suportif pada hepatitis B akut fulminan, sebaiknya penderita dirawat di ruang ICU dan diadakan pengawasan ketat untuk menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit, memberi terap ensefalopatia hepatik, mengatasi oedema cerberi, mengatasi hipoglikemia, mengatasi infeksi, menjaga kestabilan kardiovaskuler serta mengatasi gagal ginjal. Bila transplantasi hati dapat dilakukan pada waktunya, tindakan tersebut dapat menyelamatkan penderita hepatitis B akut fulminan.

Posted in Penyakit Hepatitis B | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Pengobatan Hepatitis B Kronik

Infeksi virus hepatitis B akut tidak memerlukan terapi anti virus yang terpenting adalah istirahat. Yang perlu pemberian anti virus adalah infeksi virus hepatitis B kronis aktif. Tujuan pengobatan hepatitis B kronis adalah untuk menekan laju perkembangan virus hepatitis B (replikasi virus) dan mencegah progresi penyakit hati kronis menjadi sirosis yang berpotensial menuju gagal hati dan mencegah kanker hati. Sekalipun sudah tersedia beberapa pilihan obat virus hepatitis B, namun obat-obat tersebut belum dapat menghilangkan virus dalam tubuh.

vaksin hepatitis B

Berdasarkan penelitian, obat-obatan tersebut hanya mampu menghilangkan 1%-5% HBsAg. Namun demikian, bukan berarti obat tersebut tidak bermanfaat. Dengan menurunnya kadar virus dalam tubuh (DNA virus hepatitis B ditekan serendah mungkin), maka risiko terjadinya sirosis hati dan kanker hati juga menurun.

Saat ini, ada 5 (lima) jenis obat yang direkomendasikan untuk terapi hepatitis B kronis di Amerika Serikat, yaitu interferon alfa-2b lamivudin, adefovir dipivoxil, entecavir dan peginterferon alfa-2a . Hal yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan obat mana yang akan dipilin adalah keamanan jangka panjang, kemanjuran obat, dan biaya.

Walaupun saat ini pilihan terapi hepatitis B kronis menjadi lebih banyak, namun problem yang masih belum terpecahkan adalah resistensi obat dan tingginya angka relaps pada saat terapi dihentikan. Secara ilmiah sudah terbukti sekalipun pemberian pengobatan anti virus pada infeksi virus hepatitis B tidak menghilangkan virus (HBsAg), namun risiko terjadinya sirosis dan kanker hati dapat dihambat.

Selain dengan pengobatan hepatitis B diatas, pencegahan perlu dilakukan sebagai upaya antisipasi penularan kembali virus hepatitis. Ada tiga macam cara pencegahan infeksi VHB.

1. Melalui perbaikan higiene dan sanitasi

2. Melalui pencegahan penularan parenteral/kontak dnegan penderita HBV (skrining pada donor darah, sterilisasi alat kedokteran, menghindari seks bebas, menghindari tato, penggunaan jarum narkoba secara bergantian dll).

3. Melalui pemberian vaksinasi hepatitis B

Dalam pengobatan hepatitis B kronik, titik akhir yang sering dipakai adalah hilangnya pertanda replikasi virus yang aktif secara menetap (HBeAg dan DNA VHB).

Pada umumnya, serokonversi dari HBeAg menjadi anti Hbe disertai dengan hilangnya DNA VHB dalam serum dan meredanya penyakit hati. Namun, pada kelompok pasien hepatitis B kronik HBeAg negatif serokonversi HBeAg tidak dapat dipakai sebagai titik akhir terapi dan respons terapi hanya dapat dinilai dengan pemeriksaan DNA VHB.

Posted in Penyakit Hepatitis B | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Hepatitis B Kronik

Hepatitis B adalah penyakit infeksi hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Perjalanan penyakit terbagi dua yaitu akut dan kronik. Pada fase akut, pasien mengalami gejala infeksi (menjadi sakit) yang bisa sembuh atau berakhir fatal berupa kegagalan hati.

hepatitis

Sedangkan pada fase kronik pasien tidak terlihat sakit (tampak sehat) meski virus berada dalam tubuhnya. Dua pertiga pasien hepatitis B kronik adalah karier kronik (virus tidak menganggu hati) sementara sepertiga lainnya bersifat hepatitis aktif (virus berkembang biak mengganggu hati). Sebetulnya hati mempunyai kemampuan untuk memeperbaiki jaringan yang rusak, namun peradangan menahun oleh virus hepatitis B dapat mengakibatkan kerusakan permanen. Kerusakan permanen akan membuat jaringan parut pada hati yang dapat terjadi yang disebut karsinoma hepaotseluler.

Hepatitis B ditularkan melalui darah yang terinfeksi virus atau cairan tubuh yang terkontaminasi oleh darah tersebut. Tranmisi penyakit dapat terjadi melalui kontak langsung lewat jarum suntik, tatto, tindik, pisau cukur, sikat gigi, melalu tranfusi darah, hubungan seksual dan saat persalinan dari ibu yang terinfeksi.

Kadar baiknya adalah infeksi hepatitis B dapat dicegah dengan vaksin hepatitis B. Agar efektif, vaksin diberikan dalam 3 dosis (bulan I, II dan VI). Bagi pendrita hepatitis B kronik aktif, sudah tersedia pengobatan antivirus yang terbukti efektif dalam menekan jumlah virus hingga mencapai kesembuhan.

Pada saat ini, definisi hepatitis B kronik adalah adanya persistensi virus hepatitis B (VHB) lebih dari 6 bulan yang masih idisertai dengan viremia. Hepatitis B kronik merupakan maslaah kesehatan yang besar, terutama di Asia, karena di wilayah ini terdapat sedikitnya 75% dari seluruhnya 300 juta individu HBsAg positif menetap di seluruh dunia. Di Asia, sebagian besar penderita hepatitis B kronik mendapatkan infeksi pada masa perinatal. Kebanyakan penderita ini tidak mengalami keluhan ataupun gejala sampai akhirnya terjadi penyakit hati kronik.

Pada hepatitis B akut, tubuh berusaha melakukan eliminasi cirus hepatitis B (VHB) baik dengan mekanisme resepons imun nonspesifik dilaksanakan melalu aktivitas sel T sitolitik (CD8+) yang telah mengalami aktivitasi dan dapat menimbulkan lisis sel-sel yang terinfeksi. Di samping itu, dapat juga terjadi eliminiasi VHB intraseluler dengan mekanisme nonsitolitik.

Infeksi kronik VHB bukan disebabkan oleh gangguan produksi anti HBs. Buktinya, pada penderita hepatitis B kronik ternyata dapat ditemukan anti HBs, meskipun tidak bisa dideteksi dengan metode pemeriksaan biasa karena anti HBs bersembunyi dalam kompleks dengan HBsAg.

Posted in Penyakit Hepatitis B | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Dampak Infeksi Hepatitis B

Infeksi hepatitis B dapat memiliki salah satu dari empat dampak dibawah ini :

1. Sakit ringan

Sekitar 2/3 orang yang terinfeksi virus hepatitis B mengalami sakit ringan dalam sakit ringan, tubuh bereaksi kuat terhadap infeksi dengan mengembangkan antibodi terhadap infeksi hepatitis B dan penyakit ini sembuh sepenuhnya antibodi yang dihasilkan setalah sakit ringan memberikan perlindungan seumur hidup terhadap infeksi di masa mendatang.

2. Hepatitis Akut

Sekitar ¼ orang yang terinfeksi virus hepatitis A mengembangkan hepatitis akut. Gejala-gejala hepatitis akut muncul sekitar 1-6 bulan setelah virus menginfeksi tubuh. Gejala-gejala hepatitis akut mencakup :

- Penyakit kuning (jaundice)
- Ruam pada kulit
- Rasa sakit pada persendian
- Peradangan pada ginjal dan pembuluh darah
- Anemia akibat depresi atau tekanan atas sumsum tulang yang adalah jaringan lunak tersepsialisasi di dalam tulang. Sumsum tulang penting bagi produksi dan pematangan sel-sel darah merah. Kecuali penyakit kuning, gejala lainnya kurang umum terjadi.

Kebanyakan orang yang mengidap infeksi hepatitis B akut pulih sepenuhnya dalam waktu 1-6 bulan. Namun, sekitar 1-6% orang bisa saja menderita sakit yang parah yang disertai oleh gagal ginjal. Risiko kematian sangat tinggi pada orang yang mengalami gagal ginjal.

hepatitis

3. Pembawa hepatitis B tanpa gejala

Asimtomatik sekitar 10% orang dewas yang terinfeksi virus hepatitis B tidak sanggup membersihkan virus dari dalam tubuh mereka. Proporsi anak-anak yang gagal membersihkan virus lebiih tinggi lagi. Dari mereka yang tidak membersihkan virus, sekitar 90% orang terus menunjukkan adnaya virus dalam darah mereka. Walaupun virus itu ada dalam darah, tidak tampak adanya gejala apapun dan karenanya orang yang demikian disebut pembawa tanpa gejala (asymptomatic carrier). Pembawa tanpa gejala tidak diperbolehkan mendonorkan darah. Namun mereka berada dalam risiko yang sangat rendah untuk menularkan penyakit ini kepada orang lain.

Sangat dianjurkan agar orang-orang yang mengalami kontak yang dekat dengan atau memiliki relasi seksual dnegan seorang pembawa tanpa gejala, menerima imunisasi aktif guna memastikan perlindungan penuh terhadap virus ini. Kondom harus digunakan oleh orang dalam semua kontak seksual baik yang tidak dilindungi oleh vaksinasi ataupun yang statuts kekebalannya tidak diketahui.

Sekitar 10% orang yang gagal membersihkan virus dari tubuh mereka memiliki sejumlah besar virus yang berkembang biak dan bertumbuh dengan sangat cepat. Beberapa tes darah yang spesifik dapat mendeteksi virus ini. Orang yang memiliki sejumlah besar virus mengalami sakit yang parah dan terkena hepatitis aktif kornis. Ini mungkin berkembang menjadi sirosis hati atau kadang kali, bahkan kanker hati. Sirosis hati adalah istilah yang digunakan untuk hati yang cedera dan terluka secara permanen. Jaringan parut yang terbentuk pada hati mempengaruhi sturktur hati dan menghambat aliran darah yang melaluinya. Perubahan struktur normal hati ini akan mempengaruhi semua fungsinya.

Hepatitis aktif kronis berkembang pada 90-95% bayi baru lahir yang teirnfeksi dan sekitar 30% anak-anak yang terinfeksi. Sekitar 1-10% orang dewasa yang terinfeksi kemungkinan besar terkena hepatitis kronis aktif. Risikonya kini semakin umum pada orang dewasa yang memiiliki mekanisme pertahanan alami yang lemah karena masalah kesehatan lain, sepeerit kanker darah, gagal ginjal, mereka yang pernah menerima transplantasi organ, kaum homoseksual, orang yang menderita AIDS, dan orang yang menerima obat-obatan seperti steroid.

4. Kanker hati

Hepatitis aktif kronis akibat infeksi hepatitis B dapat menyebabkan kanker hati. Ini terjadi lebih umum pada orang Asia dan orang yang terkena infeksi sewaktu bayi atau kanak-kanak. Risiko kanker hati meningkat pada perokok dan pengonsumsi alkohol.

Posted in Penyakit Hepatitis B | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

Virus Penyakit Hepatitis B

Berdasarkan penyebabnya, hepatitis dibedakan menjadi dua kelompok yaitu hepatitis virus dan hepatiti nonn virus. Hepatitis virus merupakan peradangan hati yang disebabkan oleh infeksi virus. Sejauh ini ada tujuh tipe virus yang sudh diketahui dapat menginfeksi sel-sel hati yaitu virus hepatitis A (VHA), virus hepatitis B (VHB), virus hepatitis C (VHC) dan jenis virus hepatitis lainnya.

Infeksi hepatitis B virus (HBV) merupakan masalah dunia karena virus ini menyebar ke seluruh penjuru dunia. Saat ini ada sekitar 2 milyar orang yang terinfeksi virus hepatitis B. Dari jumlah tersebut, sebanyak 360 juta di antaranya menderita hepatitis kronis, dan 470.000-520.000 menigggal akibat sirosis hati atau kanker hati. Karena demikian erat hubungan antara infeksi HBV dan kejadian kanker hati, virus hepatitis B dikategorikan sebagai carsinogen (merangsang sel hati menjadi sel ganas).

virus-hepatitis-b

Virus hepatitis B pertama kali ditemukan oleh Blumberg dkk. Pada tahun 1965 untuk mengetahui keadaan klinis pasien yang terserang infeksi hepatitis B, kita perlu mengenal bagian demi bagian komponen virus hepatitis B tersebut.

Virus hepatitis B terdiri atas :

1. Bagian luar diberi nama HBsAg (hepatitis B surface antigen)
2. Bagian tengah diberi nama HBeAg (hepatitis B e antigen)

Apabila seseoramh tertular virus hepatitis B, maka keluhannya baru muncul (masa inkubasi) 2-3 bulan kemudian. Untuk memastikan adanya hepatitis, perlu periksa darah untuk melihat peningkatan kadar GOT dan GPT (secara sederhanaan peningkatan kedua enzim tersebut dinamakan hepatitis).

Untuk memastikan bahwa penyebab hepatitis adalah virus hepatitis B, maka perlu periksa HBsAg. Bila hasilnya positif, orang tersebut menderita hepatitis B. Apabila HBsAg masih positif dalam kurun > 6 bulan sejak infeksi akut, maka dikatakan orang tersebut menderita hepatitis B kronis. Hepatitis B kronis sendiri dapat berupa dua bentuk penampilan, yaitu hepatitis B carrier inaktif atau hepatitis B aktif.

Seseorang yang menderita hepatitis B carrier, pada umumnya berpenampilan biasa alias sehat-sehat saja. Namun demikian, individu tersebut dapat menularkan penyakitnya pada orang lain. Walaupun kemungkinannya kecil, hepatitis B carrier dapat berubah karakternya menjadi bentuk hepatitis B aktif. Sementara individu yang terserang hepatitis B kronis aktif, dalam perjalanan ke depan penyakitya berisiko menjadi sirosis hati atau kanker hati.

Posted in Penyakit Hepatitis B | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Vaksin Penyakit Hepatitis B

Macam vaksin demikian diperoleh melalui proses rekayasa genetik, misalnya vaksin hepatitis B, vaksin tifoid dan rotavirus. Vaksin hepatitis B dihasilkan dengan cara memasukkan suatu segmen gen virus hepatitis B ke dalam gen sel ragi. Sel ragi yang telah diubah ini kemudian menghasilkan antigen permukaan hepatitis B murni.

Virus-like particle vaccina atau vaksin yang dibuat dari partikel yang mirip dengan virus, contohnya adalah vaksin Human papilloma virus (HPV) tipe 16 untuk mencegah kanker leher rahim. Antigen diperoleh melalui protein virus HPV yang diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan struktur yang mirip dengan seluruh struktur HPV (atau dikenal sebagai pseudo-particles of HPV tipe 16).

vaksin hepatitis B

Imunisasi hepatitis B merupakan imunisasi yang digunakan untk mencegah terjadinya penyakti hepatitis. Kandungan vaksin ini adalah HBsAg dalam bentuk cair. Frekuensi pemberian imunisasi hepatitis sebanyak 3 kali dan pengutanya dapat diberikan pada usia 6 tahun. Waktu pemberian imunisasi hepatitis B ini diberikan melalui intramuskular. Angka kejadian hepatitis B pada anak balita juga sangat tinggi dalam mempengaruhi angka kesakitan dan kematian balita.

Imunisasi aktif dilakukan dengan cara pemberian suntikan dasar sebanyak tiga kali dalam jarak waktu satu bulan antara suntikan satu dan dua, lima bulan antara suntikan dua dan tiga. Imunisasi ulang diberikan setelah lima tahun pasca imunisasi dasar. Cara pemberian imunisasi dasar tersebut dapat berbeda, tergantung dari rekomendasi pabrik pembuat vaksin hepatitis B mana yang akan dipergunakan. Misalnya imunisasi dasar vaksin hepatitis B buatan Pasteur, Perancis berbeda dengan jadwal vaksinasi buatan.

Khusus bayi yang lahur dari seorang ibu pengidap virus hepatitis B, harus diberikan imunisasi pasif dengan imunoglobulin anti hepatitis B dalam waktu sebelum berusia 24 jam. Berikutnya bayi tersebut harus pula mendapat imunisasi aktif 24 jam setelah lahir dengan penyuntikkan vaksin hepatitis B dengan pemberian yang sama seperti biasa.

Daya proteksi vaksin hepatitis B cukup tinggi yaitu berkisar antara 94-96%. Vaksinasi hepatitis B dapat diberikan pada ibu hamil dengan aman dan tidak akan membahayakan janin. Bahkan memberikan perlindungan kepada janin selama dalam kandungan ibu maupun kepada bayi selama beberapa bulan setelah lahir.

Vaksin hepatitis B plasma diproduksi dari plasma pengidap HBsAg dengan lititer tinggi. HBsAg dimurnikan dengan cara ultrasentrifungsi. Selanjutnya diberikan perlakuan untuk menghilangkan sisa-sisa bahan hidup yang mungkin masih tertinggal dengan pemberian enzim proteolitik, perlaukan dengan urea dan terakhir dengan pemberian formaldehid. Dengan plasma tersebut secara teoritik semua bahan hidup (virus) akan mati.

Posted in Penyakit Hepatitis B | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Penyakit Hepatitis B Kronik

Bila proses eliminasi virus berlangsung efisien, infeksi VHB dapat diakhiri; sedangkan bila proses tersebut kurang efisien, akan terjadi infeksi VHB menetap. Proses eliminasi VHB oleh respons imun yang tidak efisien dapat disebabkan oleh faktor viral ataupun faktor inang.

Faktor viral antara lain :

- Terjadinya imnuotoleransi terhadap produk VHB
- Hambatan terhadap CTL yang berfungsi melakukan lisis sel-lse terinfeksi
- Tejradimya mutan VHB yang tidak memproduksi HBeAg
- Intergrasi genom VHB dalam genom sel hati

Faktor inang antara lain :

- Faktor genetik
- Kurnagnay produksi IFN
- Adanya antobodi terhadp antigen nukleokapsid
- Kelainan fungsi limfosit
- Respons antiidiotipe
- Faktor kelamin atau hormonal

hepatitis-b-virus

Salah satu contoh peran imunitoleransi terhadap produk VHB dalam menimbulkan persistensi VHB adalah mekanisme persistensi infeksi VHB pada neonatus yang dilahirkan oleh ibu HBsAg dan HBeAg yang masuk ke dalam tubuh janin sebelum invasi HVB, sedangkan persistensi pada usia dewasa diduga disebabkan oleh kelelahan sel T karena tingginya kadar partikel virus.

90% indivdu yang mendapat infeksi sejak lahir akan tetap HBsAg positif sepanjang hidupnya dan menderita hepatitis B kronik. Sementara itu, hanya 5% individu dewasa yang mendapat infeksi yang akan mengalami persistensi infeksi. Persistensi VHB menimbulkan dan respons imun tubuh. Interaksi antara VHB dengan repson imun tubuh (terhadap VHB) sangat besar perannya dalam menentukan derajat keparahan hepatitis.

Dulu perjalanan penyakit hepatitis B kronik dibagi menjadi 3 fase penting yaitu fase imunotoleransi, fase imunoaktif atau fase immun clearance dan fase inactive carrier atau fase residual. Sekarang menurut pengertian yang terbaru ada 4 fase penting dalam perjalanan penyakit hepatitis B kronik, yaitu fase imunotoleransi, fase imunoaktif, atau fase immun clearance dan fase inactive carrier atau fase residual ditambah satu fase lagi yaitu fase reaktivasi.

Fase hepatitis B kronik HBeAg positif dan fase reaktivasi dinakan juga fase hepatitis kronik HBeAg negatif. Pada sekitar 20-30% penderita hepatitis B kronik dalam fase residual dapat mengalami reaktivasi dan menyebabkan kekambuhan.

Dalam fase residual, replikasi VHB sudah mencapai titik minimal dan peneliatian menunjukkan bahwa angka harapan hidup pada penderita dengan anti HBe positif lebih tinggi dibandingkan dengan penderita HBeAg positif. Namun, penelitian menunjukkan bahwa hepatitis B menjadi tenang, justru risiko untuk terjadi karsinoma hepatoselular (KHS) mungkin justru meningkat.

Posted in Penyakit Hepatitis B | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Diagnosis dan Pencegahan Infeksi Penyakit Hepatitis B

Diagnosis penyakit Hepatitis B surface antigen (HbsAg) merupakan petanda infeksi VHB yang dapat dideteksi 2 minggu-2 bulan sebelum ada gejala klinik. Umumnya HBsAg ini bertahan selama 2-3 bulan dan sifatnya menular. Bila HBsAg positif menandakan adanya infeksi VHB akatif, akut atau kronik. Adanya HBsAg dalam darah diikuti dengan peningkatkan aktifitas SGPT kemudian SGOT. Penurunan aktifitas enzim ini diikuti dengan penurunan titer HBsAg. Selain HBsAg juga dapat dijumpai DNA polimerase.

 

Akhir-akhir ini dikembangkan pemeriksaan HBsAg secara kuantitatif yang dipergunakan untuk monitoring pasien dengan hepatitis B kronik dalam pengobatan maupun tanpa pengobatan. Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi carrier in aktif dan sebaiknya dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR).

Infeksi dengan virus hepatitis B umumnya akan menimbulkan HbeAg dan anti-HBe. HbeAg terdeteksi setelah timbul HBsAg. Titer HBsAg dan HBeAg meningkat tajam pada saat infeksi akut yang menunjukkan replikasi virus. Serokonversi HBeAg menjadi anti-HBe merupakan petanda infeksi teratasi dan menunjukkan daya infeksi yang berkurang. HBeAg dapat dijumpai bersamaan dengan HBsAg dan biasanya disertai dengan DNA VHB dan DNA polimerase.

Anti HBc

Pasca infeksi virus hepatitis B, didapatkan antiHbc merupakan antibodi terhadap antigen core yang terdapat pada sel hati. Dikenal 2 macam antuHBc yaitu anti HBc IgM dan anti Hbc total. Wwaktu antara hilangnya HBsAg dengan terbentuknya antiHBs disebut window period ( perode jendela). Window period ini bisa terjadi beberapa minggu, bulan atau tahun dan pada keadaan ini anti-HBc IgM positif. Unutk mengetahui adanya infeksivirus hepatitis B bila HBsAg dan anti-HBs negatif, perlu dilakuakn pemeriksaan anti HBc IgM unutk mamstikan apakh individu tersebut telah terpapar VHB.

Pada pasien tidak mempunyai informasi bahwa dia terpapar VHB dapat diketahui dengan memeriksa anti-HBc total, bila positif berarti terdapat 2 kemungkinan yaitu penderita dalam keadaan infeksi aktif atau imun/sembuh.

Anti HBs

Anti HBs adalah antibodi golongan IgG terhadap HBsAg yang timbul setelah terpapar virus hepatitis B atau setelah vaksinasi hepatitits B yang bersifat protektif. Antibodi yang timbul terhadap determinat a dari VHB adalah subtipe d, y, w1-w4, r dan q. Pada pasien yang mendapatkan vaksinasi hepatitis perlu permeriksaan anti HBs untuk mengetahui keberhasilan vaksinasi (kekebalan). Pada vaksinasi bila kadar anti-HBs < 20 mIU/ml dianggap non reaktif sedangkan kadar anti-HBs > 10mIU/ml dianggap reaktif.

Pemeriksan DNA virus Hepatitis B

Pemeriksaan DNA HBV dilakukan dengan metoda molekuler yaitu metode PCR. Hasil pemeriksaan dapat dilaporkan secara kuantitatif maupun kualitatif.

Dikenal 2 macam cara pencegahan yaitu dengan hepatits B immune globulin (HBIG) dan hepatitis B vaksin. Penggunaan HBIG adalah pencegahan pasif untuk sementara waktu, sedangkan penggunaan vaksin hepatitis B untuk mencegah infeksi VHB secara aktif dan mendapatkan imunitas dalam jangka waktu yang lama. Hubungi dokter anda untuk pencegahan infeksi VHB.

Pencegahan penularan infeksi hepatitis B

- Tidak menjadi donor darah, organ atau sperma.
- Tidak memakai sikat gigi atau alat cukur bersama
- Pasangan seksual dianjurkan vaksinasi
- Menggunakan kondom bila pasangan tidak divaksinasi
- Membersihkan tetesan darah dengan menggunakan larutan hipoklorit

Bagaimana pencegahan infeksi VHB ?

- Memeriksa HBsAg untuk darah dan produk darah yang ditransfusikan
- Memusnahkan semua jarum habis pakai
- Menjalankan universal precautions seperti penggunaan alat yang steril, menggunakan sarung tangan dan penutup mata serta wajah untuk menghindari terpaparnya VHB pada waktu melakukan sentrifugasi di dalam laboratorium
- Melakukan vaksinasi hepatitis B

 

 

 

Posted in Penyakit Hepatitis B | Tagged , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Pemeriksaan Hepatitis B

Berbagai ragam bentuk perjalanan klinis infeksi hepatitis yaitu bisa berupa hepatitis akut, sembuh atau berlanjut menjadi hepatitis B carrier inaktif, hepatitis kronis inaktif, atau berlanjut menjadi kanker hati atau sirosis hati. Untuk memastikan adanya infeksi VHB dan sejauh mana bentuk klinis infeksi hepatitis tersebut, diperlukan beberapa pemeriksaan berikut :

1. Wawancara dan pemeriksaan fisik

Hepatitis B secara awam lazim disebut sebagai penyakit kuning, tidak selalu menampakkan warna kuning di matanya (konjungtiva). Pada penyakti hepatitis B, mata kuning dijumpai pada sepertiga kasus. Untuk lebih mengarah pada diagnosis hepatitis B, perlu digali mengenai riwayat transfusi darah, hemodialisis, apakah ibu dan anak pernah menderita hepatitis B dan juga mempertanyakan kebiasaan-kebiasaan seperti hubungan seks bebas dan pemakaian narkoba suntik sebelumnya. Didukung dengan pemeriksan fisik yang teliti untuk melihat kemungkinan tanda klinis, sepeti mata kuning, penemuan adanya pemebsaran hati, pembengkakan perut dan kaki, dsb.

2. Pemeriksaan fungsi hati

Organ hati mengemban berbagai macam tugas, seperti fungsi sintesis, ekskresi, detoksifikasi dan penyimpan cadangan energi. Gangguan organ hati entah disebabkan oleh penyakit apapun termasuk infeksi hepatitis B dengan sendirinya akan mempengaruh fungsi hati.

3. Pemeriksaan Serologi

Tidak semua pemeriksaan serologi mutlak diterapkan pada seseorang yang dicurigai menderita hepatitis B. Manfaat pemeriksaan ini adalah untuk mendiagnosis adanya infeksi VHB dan memastikan sejauh manan infeksi VHB berada pada keadaan infeksi akut, kronis atau telah sembuh. Berikut jenis pemeriksaan serologi pada infeksi VHB.

- Pemeriksaan HBsAg. Pemeriksaan ini memastikan apakah seseorang menderita hepatitis B atau tidak. Hasil pemeriksaan hepatitis B positif memastikan bahwa seseorang menderita infeksi VHB. Peneriksaan HBsAg positif yang menetap lebih dari 6 bulan disebut sebgai infeksi VHB kronis.

- Anti HBs. Meningkatnya kadar anti HBs memperlihatkan bahwa seseorang memiliki kekebalan alami atau pernah mendapatkan vaksinasi hepatitis B. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan bersama-sama dengan HBsAg ketika seseorang perlu atau tidak mendapatkan vaksin hepatitis B. Seseorang dengan hasil HBsAg negatif dan tidak ada kadar HBs (atau titer kurang dari 10 UI/ml), memberikan arti bahwa orang tersebut tidak sedang menderita infeksi VHB dan tidak memiliki perlindungan terhadap VHB sehingga ia perlu mendapatkan vaksin hepatitis B. Namun, bila seseorang telah memiliki kadar anti HBs tinggi, lebih dari 100 UI/ml, ia tidak perlu mendapatkan vaksinasi hepatitis B.

Posted in Penyakit Hepatitis B | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment