Penyakit Hepatitis B Kronik

Penyakit Hepatitis B Kronik – Bila proses eliminasi virus berlangsung efisien, infeksi VHB dapat diakhiri; sedangkan bila proses tersebut kurang efisien, akan terjadi infeksi VHB menetap. Proses eliminasi VHB oleh respons imun yang tidak efisien dapat disebabkan oleh faktor viral ataupun faktor inang.

Penyakit Hepatitis B Kronik

Penyakit Hepatitis B Kronik

Penyakit Hepatitis B Kronik

Faktor viral antara lain :

  • Terjadinya imnuotoleransi terhadap produk VHB
  • Hambatan terhadap CTL yang berfungsi melakukan lisis sel-lse terinfeksi
  • Tejradimya mutan VHB yang tidak memproduksi HBeAg
  • Intergrasi genom VHB dalam genom sel hati

Faktor inang antara lain :

  • Faktor genetik
  • Kurangnya produksi IFN
  • Adanya antobodi terhadp antigen nukleokapsid
  • Kelainan fungsi limfosi
  • Respons antiidiotipe
  • Faktor kelamin atau hormonal

Salah satu contoh peran imunitoleransi terhadap produk VHB dalam menimbulkan persistensi VHB adalah mekanisme persistensi infeksi VHB pada neonatus yang dilahirkan oleh ibu HBsAg dan HBeAg yang masuk ke dalam tubuh janin sebelum invasi HVB, sedangkan persistensi pada usia dewasa diduga disebabkan oleh kelelahan sel T karena tingginya kadar partikel virus.

90% indivdu yang mendapat infeksi sejak lahir akan tetap HBsAg positif sepanjang hidupnya dan menderita hepatitis B kronik. Sementara itu, hanya 5% individu dewasa yang mendapat infeksi yang akan mengalami persistensi infeksi. Persistensi VHB menimbulkan dan respons imun tubuh. Interaksi antara VHB dengan repson imun tubuh (terhadap VHB) sangat besar perannya dalam menentukan derajat keparahan hepatitis.

Dulu perjalanan penyakit hepatitis B kronik dibagi menjadi 3 fase penting yaitu fase imunotoleransi, fase imunoaktif atau fase immun clearance dan fase inactive carrier atau fase residual. Sekarang menurut pengertian yang terbaru ada 4 fase penting dalam perjalanan penyakit hepatitis B kronik, yaitu fase imunotoleransi, fase imunoaktif, atau fase immun clearance dan fase inactive carrier atau fase residual ditambah satu fase lagi yaitu fase reaktivasi.

Fase Penyakit Hepatitis B

Fase Penyakit hepatitis B kronik HBeAg positif dan fase reaktivasi dinakan juga fase hepatitis kronik HBeAg negatif. Pada sekitar 20-30% penderita hepatitis B kronik dalam fase residual dapat mengalami reaktivasi dan menyebabkan kekambuhan.

Dalam fase residual, replikasi VHB sudah mencapai titik minimal dan peneliatian menunjukkan bahwa angka harapan hidup pada penderita dengan anti HBe positif lebih tinggi dibandingkan dengan penderita HBeAg positif. Namun, penelitian menunjukkan bahwa hepatitis B menjadi tenang, justru risiko untuk terjadi karsinoma hepatoselular (KHS) mungkin justru meningkat.

Perbedaan antara penyakit hepatitis B dan penyakit hepatitis akut adalah jika penyakit hepatitis B akut merupakan penyakit hepatitis yang terjadi dengan singkat, namun untuk penyakit hepatitis B kronik merupakan penyakit hepatitis yang tahan lebih lama. Pada infeksi penyakit hepatitis B akut biasanya akan berlangsung kurang dari 6 bulan. Dan jika penyakit hepatitis B ini sifatnya akut, maka sistem kekebalan tubuh akan bisa membersihkan virus dari dalam tubuh dan Anda sudah harus bisa sembuh dalam waktu beberapa bulan.

Dan kebanyakan dari orang dewasa yang menderita penyakit hepatitis biasanya akan mengalami infeksi akut. Infeksi pada penyakit hepatitis B yang kronik biasanya akan berlangsung selama kurang lebih akan terjadi selama enam bulan atau juga bahkan lebih. Disaat sistem kekebalan tubuh seseorang tidak bisa melawan virus, infeksi dari penyakit hepatitis B biasanya akan menetap menjadi seumur hidup dan bahkan mungkin juga akan menimbulkan penyakit yang lebih serius lagi misalnya adalah seperti penyakit sirosis hati dan penyakit kanker hati. Kebanyakan dari bayi yang mengalami infeksi pada penyakit infeksi hepatitis B saat lahir dan ada juga anak usia antara 1-5 tahun yang mengalami infeksi kronik. Ifeksi kronik yang terjadi nmungkin tidak akan terdeteksi selama beberapa dekade sampai pada akhirnya mereka mengalami sakit yang parah.

Komplikasi yang terjadi pada penyakit hepatitis B kronik adalah :

  1. Munculnya jaringan parut pada hati atau mengalami penyakit sirosis hati. Infeksi pada penyakit hepatitis B yang bisa mengakibatkan terjadinya peradangan yang pada akhirnya akan menimbulkan jaringan parut yang lebih luas dimulai dari hati. Jaringan parut yang terletak dihati akan membuat kemampuan hati dalam berfungsi bisa terganggu.
  2. Penyakit kanker hati. Orang yang mengalami infeksi penyakit hepatitis B kronik biasanya akan mempunyai suatu peningkatan dalam resiko mengalami penyakit kanker hati.
  3. Gagal hati. Kegagalan hati yang sifatnya akut adalah suatu kondisi dimana ada beberapa fungsi-fungsi vital dari mulai hati ditutup. Disaat itu terjadi, biasanya pengobatan yang perlu dilakukan adalah dengan transplantasi hati untuk bisa mempertahankan kehidupan.
  4. Infeksi penyakit hepatitis D. Siapa saja yang terinfeksi oleh penyakit hepatitis B kroni juga akan rentan untuk mengalami infeksi pada strain virus hepatitis lain misalnya adalah hepatitis D. Anda tidak bisa terinfeksi penyakit hepatitis D terkecuali jika pernah mengalami penyakit hepatitis B. Dan setelah penyakit hepatitis B dan juga penyakit hepatitis D yang akan membuat resiko kemungkinan dari terjadinya penyakit ini dan bisa mengembangkan penyakit hepatitis.
  5. Sakit ginjal. Infeksi yang terjadi pada penyakit hepatitis B biasanya akan menimbulkan suatu masalah sakit ginjal yang pada akhirnya bisa mengakibatkan penyakit gagal ginjal. Anak-anak yang mempunyai resiko lebih cepat pulih dan sehat dari sakit ginjal dibandingkan oleh orang dewasa yang bisa mengalami suatu kemungkinan penyakit ginjal.

Penyakit Hepatitis B Kronik

Posted in Penyakit Hepatitis B | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Diagnosis dan Pencegahan Infeksi Penyakit Hepatitis B

Diagnosis dan Pencegahan Infeksi Penyakit Hepatitis B surface antigen (HbsAg) merupakan petanda infeksi VHB yang dapat dideteksi 2 minggu-2 bulan sebelum ada gejala klinik. Umumnya HBsAg ini bertahan selama 2-3 bulan dan sifatnya menular. Bila HBsAg positif menandakan adanya infeksi VHB akatif, akut atau kronik. Adanya HBsAg dalam darah diikuti dengan peningkatkan aktifitas SGPT kemudian SGOT. Penurunan aktifitas enzim ini diikuti dengan penurunan titer HBsAg. Selain HBsAg juga dapat dijumpai DNA polimerase.

Diagnosis dan Pencegahan Infeksi Penyakit Hepatitis B

Diagnosis dan Pencegahan Infeksi Penyakit Hepatitis B

Penyakit Hepatitis B

Akhir-akhir ini dikembangkan pemeriksaan HBsAg secara kuantitatif yang dipergunakan untuk Diagnosis dan Pencegahan Infeksi Penyakit Hepatitis B monitoring pasien dengan hepatitis B kronik dalam pengobatan maupun tanpa pengobatan. Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi carrier in aktif dan sebaiknya dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR).

Infeksi dengan virus penyakit hepatitis B umumnya akan menimbulkan HbeAg dan anti-HBe. HbeAg terdeteksi setelah timbul HBsAg. Titer HBsAg dan HBeAg meningkat tajam pada saat infeksi akut yang menunjukkan replikasi virus. Serokonversi HBeAg menjadi anti-HBe merupakan petanda infeksi teratasi dan menunjukkan daya infeksi yang berkurang. HBeAg dapat dijumpai bersamaan dengan HBsAg dan biasanya disertai dengan DNA VHB dan DNA polimerase.

Anti HBc

Pasca infeksi virus hepatitis B, didapatkan antiHbc merupakan antibodi terhadap antigen core yang terdapat pada sel hati. Dikenal 2 macam antuHBc yaitu anti HBc IgM dan anti Hbc total. Wwaktu antara hilangnya HBsAg dengan terbentuknya antiHBs disebut window period ( perode jendela). Window period ini bisa terjadi beberapa minggu, bulan atau tahun dan pada keadaan ini anti-HBc IgM positif. Unutk mengetahui adanya infeksivirus hepatitis B bila HBsAg dan anti-HBs negatif, perlu dilakuakn pemeriksaan anti HBc IgM unutk mamstikan apakh individu tersebut telah terpapar VHB.

Pada pasien tidak mempunyai informasi bahwa dia terpapar VHB dapat diketahui dengan memeriksa anti-HBc total, bila positif berarti terdapat 2 kemungkinan yaitu penderita dalam keadaan infeksi aktif atau imun/sembuh.

Anti HBs

Anti HBs adalah antibodi golongan IgG terhadap HBsAg yang timbul setelah terpapar virus hepatitis B atau setelah vaksinasi hepatitits B yang bersifat protektif. Antibodi yang timbul terhadap determinat a dari VHB adalah subtipe d, y, w1-w4, r dan q. Pada pasien yang mendapatkan vaksinasi hepatitis perlu permeriksaan anti HBs untuk mengetahui keberhasilan vaksinasi (kekebalan). Pada vaksinasi bila kadar anti-HBs < 20 mIU/ml dianggap non reaktif sedangkan kadar anti-HBs > 10mIU/ml dianggap reaktif.

Pemeriksan DNA Virus Hepatitis B

Diagnosis dan Pencegahan Infeksi Penyakit Hepatitis B dilakukan dengan metoda molekuler yaitu metode PCR. Hasil pemeriksaan dapat dilaporkan secara kuantitatif maupun kualitatif.

Dikenal 2 macam cara pencegahan yaitu dengan hepatits B immune globulin (HBIG) dan hepatitis B vaksin. Penggunaan HBIG adalah pencegahan pasif untuk sementara waktu, sedangkan penggunaan vaksin hepatitis B untuk mencegah infeksi VHB secara aktif dan mendapatkan imunitas dalam jangka waktu yang lama. Hubungi dokter anda untuk pencegahan infeksi VHB.

Diagnosis dan Pencegahan Infeksi Penyakit Hepatitis B

  • Tidak menjadi donor darah, organ atau sperma.
  • Tidak memakai sikat gigi atau alat cukur bersama
  • Pasangan seksual dianjurkan vaksinasi
  • Menggunakan kondom bila pasangan tidak divaksinasi
  • Membersihkan tetesan darah dengan menggunakan larutan hipoklorit

Bagaimana pencegahan infeksi VHB ?

  • Memeriksa HBsAg untuk darah dan produk darah yang ditransfusikan
  • Memusnahkan semua jarum habis pakai
  • Menjalankan universal precautions seperti penggunaan alat yang steril, menggunakan sarung tangan dan penutup mata serta wajah untuk menghindari terpaparnya VHB pada waktu melakukan sentrifugasi di dalam laboratorium
  • Melakukan vaksinasi hepatitis B

Mencegah Penyakit Hepatitis B

Cara yang bisa dilakukan dalam mengurangi resiko tertular penyakit hepatitis B adalah dengan melakukan beberapa hal dibawah ini :

  1. Anda harus mengetahui status dari penyakit hati hepatitis B pada setiap pasangan seksual Anda. Sebaiknya tidak terlibat dalam melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan pengaman atau kondom keciali jika Anda sudah benar-benar meyakini bahwa pasangan Anda tidak terinfeksi penyakit hepatitis B atau juga penyakit menular seksual yang lain.
  2. Menggunakan kondom berbahan dasar lateks atau poliuretan yang baru disaat Anda akan melakukan hubungan seksual. Jika Anda tidak mengetahui status dari kesehatan pasangan Anda, maka sebaiknya gunakanlah kondom yang berbahan dasar lateks setiap kali Anda akan melakukan kontak seksual dengan pasangan. Ingatlah walaupun kondom bisa membantu mengurangi resiko penyakit hepatitis B namun mereka tidak akan bisa menghilangkan resiko yang terjadi semuanya.
  3. Jangan menggunakan obat-obatan narkotika apalagi jenis intravena atau yang disuntikkan.
  4. Jika Anda melakukan body piercing atau juga tato sebaiknya lakukan pemeriksaan terlebih dahulu mengenai jarum suntik yang hendak digunakan apakah aman atau tidak, apakah steril atau tidak.
  5. Melakukan vaksin sebelum bepergian ke negara atau ke tempat yang resiko penyakit hepatitisnya tinggi. Misalnya adalah tempat pedalaman yang masyarakatnya menderita penyakit hepatitis dengan kasus yang tinggi dan jika Anda pergi ke negara berkembang dengan kasus hepatitis tinggi.
  6. Mengonsumsi jenis makanan yang tidak mengandung lemak tinggi, konsumsilah jenis makanan yang mengandung buah dan juga sayuran yang mengandung vitamin, mineral dan juga mengandung serat tinggi untuk mengembalikan fungsi jantung menjadi lebih sehat lagi.

Diagnosis dan Pencegahan Infeksi Penyakit Hepatitis B

Posted in Penyakit Hepatitis B | Tagged , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Penyakit Hepatitis B

Penyakit Hepatitis B merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual dari cairan sperma (sexual transmitted disease/STD), darah atau cairan tubuh lain. Penyakit ini dapat menimbulkan penyakit serius dan mengakibatkan kerusakan hati yang dapat berakhir dengan kematian atau kanker hati. Hepatitis B terdiri dari antigen permukaan (surface antigen) yang disebut dengan antigen Australia, karena antigen ini pertama kali dijumpai di Australia.

Penyakit Hepatitis B

Penyakit Hepatitis B

Penyakit Hepatitis B

Masa inkubasi dari penyakit hepatitis B ini berkisar antara 45-180 hari dan lama masa inkubasi tergantung pada jumlah virus yang masuk ke dalam tubuh dan cara penularan serta daya tahan pasien. Penyakit ini sering dijumpai pada 30-50% pada usia > 50 tahun dan 10% pada usia  < 50 tahun. Keluhan pada penyakit hepatitis B : mual tidak nafsu makan, lemas, muntah, nyeri pada otot dan sendi, demam, kencing berwarna cokelat tua dan kulit berwarna kuning. Kebanyakan kasus dengan infeksi hepatitis B akan sembuh dalam waktu 6 bulan dan mengalami kekebalan. Di mana 15-20% akan menjadi hepatitis kronik atau penyakit hati menahun yang kemudian menjadi sirosis hati dan berkembang menjadi kanker hati.

Virus hepatitis B (VHB) adalah virus DNA yang bentuknya kompleks, mempunyai 2 lapis partikel disebut partikel Dane, merupakan lapisan permukaan VHB yang disebut HbsAg dan lapisan dalam pada intinya didapatkan hepatitis B core antigen (HbcAg). Di dalam inti dari genome viral terdapat DNA yang sirkuler dan double stranded.

Pemeriksaan Hepatitis B

Dengan adanya pemeriksaan penyaring pada darah transfusi, infeksi Penyakit hepatitis B berkurang sekitar 0,3-0,9% pada pasien yang mendapatkan transfusi. Angka kejadian infeksi VHB tinggi pada : pasien yang mendapatkan tranfusi berulang atau komponen darah yang berasal dari donor multipel, pasien dengan hemodialisi, pecandu narkoba, luka tusuk dnegan jarun suntik atau alat kesehatan lain yang telah terkontaminasi, akunpuntur, tatto, pegawai medis, transmisi dari ibu ke bayi dan penggunaan pisau cukur bersama penderita hepatitis B.

Infeksi dengan virus penyakit hepatitis B dapat berupa sembuh spontan, infeksi subklinis sampai akut dan fatal pada hepatitis fulminan (ganas). Untuk menegakkan diagnosis VHB dapat digunakan parameter dibawah ini :

  • Hepatitis B surface antigen (HBsAg)
  • Hepatitis B e antigen (HBeAg)
  • Hepatitis B e antibodi (anti-HBe)
  • Hepatitis B core antibodi (anti-HBc) total
  • Hepatitis B core antibodi (anti-HBc IgM)
  • Hepatitis B antibodi (anti-HBs)

 Komplikasi Penyakit Hepatitis B

Komplikasi penyakit hepatitis B yang paling parah adalah kematian. Penyakit hepatitis B merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi akbat dari kegagalan fungsi hati. Dan ditambah juga dari suatu penelitian yang menunjukkan penyakit hepatitis B mempunyai resiko untuk terjadi penyakit kanker hati sebesar 200 kali lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak mengidap penyakit hepatitis B.

Selain itu, beberapa faktor juga berperan aktif pada penyakit hepatitis B adalah :

  1. Adanya beberapa waktu atau episode yang spontan dari penyakit hepatitis B yang mengalami masalah eksaserbasi dan juga replikasi yang lebih menjurus pada arah dekompensasi dan juga progresivitas pada penyakit hati penderita yang sebelumnya sudah pernah mengalami penyakit hati ringan dan juga stabil.
  2. Bentuk yang ringan dari jenis penyakit hepatitis kronik persisten, dan sewaktu-waktu akan bisa berubah menjadi progresif kemudian hepatitis kronik yang aktif dan juga bisa berubah menjadi sirosis hati.
  3. Pada penyakit hepatitis B yang bisa bertindak sebagai reservoir atau sebagai sumber dari terjadinya infeksi pada daerah sekitar hati. Kortiosteroid yang tidak mampu melakukan pengobatan pada penyakit hepatitis B yang kronik, dan disamping itu juga dalam waktu yang lama akan menyebabkan replika dari penyakit hepatitis B serta mencegah kehilangan HbeAg yang ada di dalam serum si penderita.

Dalam melakukan pengobatan penyakit hepatitis B dengan menggunakan interferon  adalah untuk menekan dan juga untuk mengeliminasi virus hepatitis B dengan sekaligus dan menyeluruh serta bisa mengindusir kesembuhan dari penyakit hati dan terutama adalah penyakit hepatitis B kronik. Dibawah ini merupakan peranan dari interferin untuk pengobatan penyakit hepatitis B adalah :

  1. Membantu menghambat replikasi dari virus penyakit hepatitis B baik lewat efek yang langsung atau juga lewat dari stimulasi sistem kekebalan tubuh si penderita penyakit hati.
  2. Membantu menghentian atau juga menghambat nekrosis dari sel hati akibat dari terjadinya reaksi peradangan
  3. Mencegah terjadinya transformasi dari maligna sel-sel yang ada di dalam hati.

Indikasi dari pemakaian interferon adalah :

  1. Untuk penderita dengan kasus HbeAg dan HBV-DNA yang positif.
  2. Pada penderita penyakit hepatitis kronik aktif yang sudah dibuktikan dengan melakukan pemeriksaan histopatologi.

Dan indikasi pemberian dari interferon ini bisa dipertimbangkan dengan pemberian interferon terhadap penyakit hepatitis fulminan yang akut, walaupun belum banyak penelitian yang menunjukkan dibidang ini.

Efek samping yang biasanya ditimbulkan dari pemakaian interferon pada penyakit hepatitis B adalah :

  1. Secara dini
    Efek umum : demam lebih dari 40 derjaat celcius, menggigil dan badan terasa dingin, sakit kepala, anoreksia, nausea, kelelahan yang maksimal dan nyeri otot serta insomnia susah tidur.
    Efek jarang terjadi : hiptensi, sianosis, kebingungan, dan perubahan yang terjadi pada EEG
  2. Lambat sekitar 2 minggu
    Efek umum : kelelahan, nyeri sendi, rasa kantuk, berat badan menurun, rambut rontok, masalah gangguan emosi, supresi pada sumsum tulang.
    Efek jarang terjadi : agitasi, depresi, nausea, penyakit diare, hidun tersumbat, sakit tenggorokan, sindrom nefrotik.

 Penyakit Hepatitis B

Posted in Penyakit Hepatitis B | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | Comments Off on Penyakit Hepatitis B

Cara Penularan Hepatitis B

Cara Penularan Hepatitis B – Infeksi penyakit hepatitis B kornik sedikitnya diderita oleh 300 juta orang di seluruh dunia. Di Eropa dan Amerika 15-25% penderita hepatitis B kronik akan meninggal karena proses hati atau kanker hati primer. Penelitian yang dilakukan di Taiwan pada 3.654 pria Cina yang HBsAg positif bahkan mendapatkan angka yang lebih besar, yaitu antara 40-50%.

Cara Penularan Hepatitis B

Cara Penularan Hepatitis B

Penyakit Hepatitis B

Cara Penularan Hepatitis B bahkan bahaya tingkat penularannya 100 kali lebih cepat dibanding dengan virus HIV. Ada 2 golongan cara penularan infeksi VHB, yaitu penularan horinzontal dan penularan vertikal. Cara penularan horizontal terjadi dari seorang pengidap infeksi VHB kepada individu yang masih rentan di sekelilinginya. Penularan horinzontal dapat terjadi melalui kulit atau melalui selaput lendir, sedangkan penularan vertikal terjadi dari seorang pengidap yang hamil kepada bayi yang dilahirkannya.

1. Cara Penularan Hepatitis B melalui kulit

Penularan ini terjadi jika bahan yang mengandung partikel virus hepatitis B (HBsAg) masuk ke dalam kulit. Contohnya, kasus penularan terjadi akibat transfusi darah yang mengandung HBsAg positif, hemodialisis (cuci darah) pada penderita gagal ginjal kronik, serta melalui alat suntik yang tidak steril, seperti penggunaan jarum suntik bekas, jarum akupuntur yang tidak steril, alat tato, alat cukur dan yang saat ini merupakan cara penularan terbanyak adalah melalui penyuntikan narkoba secara bergantian.

Virus hepatitis B tidak bisa menembus pori-pori kulit, tetapi dapat masuk melalu kulit yang terluka dan mengalami kelainan dermatologik.

2. Cara Penularan Hepatitis B melalui selaput lendir

Penularan dapat terjadi melalui mulut (peroral) yaitu jika bahan yang mengandung virus mengenai selaput lendir mulut yang terluka, misalnya karena peradangan mulut atau sesudah mencabut gigi dan bisa juga melalui ciuman. Selain itu, penularan virus hepatitis B dapat melalui selaput lendir alat kelamin (seksual) akibat berhubungan seksual dengan pasangan yang mengandung HBsAg positif yang bersifat infeksius, baik dengan pasangan heteroseksual maupun homoseksual.

3. Cara Penularan Hepatitis B vertika (penularan perinatal)

Merupakan penularan VHB dari ibu yang menderita hepatiti B akut atau pengidap hepatitis B kronis kepada bayinya pada saat dalam kandungan (masa kehamilan) atau sewaktu persalinan. Jika infeksi hepatitis akut terjadi pada masa kelamilan trisemester pertama dan kedua, umumnya penularan jarang terjadi. Namun, jika hepatitis akut terjadi pada masa kehamilan trisemester ketiga maka penularan lebih sering terjadi. Penularan dari ibu pengidap hepatitis B kornis kepada bayinya mengidap hepatitis B kronis. bayi yang terinfeksi tersebut mungki menderita hepatitis akut atau lebih sering terjadi adalah akan berkembang menjadi infeksi yang menetap dan menjadi kronik.

Pengobatan Penyakit Hepatitis B

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengobati penyakit hepatitis B adalah dengan menggunakan interferon. Interferon (IFN) adalah salah satu unsur di dalam sistem kekebalan tubuh yang alami yang bisa membentuk daya antivirus, antipoliferatif, dan juga immunodulasi yang biasanya akan terbentuk dari rangsangan pada virus atau juga pada jenis mitogen yang lainnya. Dalam kasus penyakit hepatitis virus yang akut biasanya akan terjadi suatu peningkatan pada interferon, namun hal ini tidak akan terjadi untuk penyakit hepatitis fulminan akut dan juga penyakit hepatitis kronik khususnya adalah untuk penyakit hepatitis B.

Terapi menggunakan interferon untuk penyakit hepatitis B ini mempunyai tujuan unutk membantu menghambat replikasi dari virus hepatitis B, dengan menghambat nekrosis dan juga dalam mencegah terjadinya transformasi maligna yang ada di dalam sel hati. IFN ini diberikan dengan suatu indikasi yang paling utama adalah HbeAg dan juga HBV-DNA yang positif dan juga adanya penyakit hepatitis kronik aktif. Respon yang terjadi pada IFN bisa dalam bentuk respon yang sementara, respon yang tidak lemgkap dan juga respon yang lengkap.

IFN akan berkerja lebih efektif jika digunakan dengan dosis 510 MU/kali 3 kali dalam seminggu dan paling tidak sedikitnya bisa diberikan selama kurang lebih 3 bulan. Keberhasilan dari terapi Interferon ini terhadi sekitar pada 1/3 kasus penyakit hepatitis B kronik. Hasil yang paling baik adalah jika terapi IFN ini diberikan sedini mungkin, yakni pada fase replikasi aktif dari virus B. IFN lebih efektif lagi jika diberikan pada pengidap yang mengalami infeksi di usia dewasa dibandingkan pada usia anak-anak.

Faktor lainnya yang juga turut berperan dalam keberhasilan dari IFN adalah jenis kelamin, kadar transminase serum sebelum dan juga selama proses terapi sedang berlangsung, kadar dari HBV-DNA sebelum terapi dan adanya suatu antibodi pada kasus penyakit HIB dan HDV. Untuk membantu meningkatkan rangsangan dari terapi, maka Anda bisa melakukan kombinasi dari IFN dengana menggunakan anti virus misalnya adalah seperti ARA-A, ARA-AMP atau juga acyclovir. Penggunaan dari IFN jenis beta dan gama baik digunakan dengan tunggal, dan juga kombinasi dari keduanya atau dalam menggunakan steroid yang sedang dalam evaluasi.

Jika Anda menderita penyakit hati hepatitis B, maka Anda harus memberitahu kepada orang terdekat yang Anda percaya dan bisa memahami serta bisa mendukung Anda. Hal ini merupakan suatu hal yang sangat penting. Maka luangkanlah waktu Anda untuk bisa menceritakan kepada siapa mengenai apa yang Anda alami. Anda tidak perlu memberitahu ke semua orang yang Anda kenal bahwa Anda menderita penyakit hepatitis B, dan sebaiknya Anda melakukan pencegahan untuk menghindari penularan pada orang lain.

Cara Penularan Hepatitis B

Posted in Penyakit Hepatitis B | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Virus Penyebab Hepatitis B

Virus Penyebab Hepatitis B – Hepatitis B tipe ini disebut juga hepatitis serum atau hepatitis inkubasi panjang. Penyakit ini disebabkan oleh virus hepatitis B (VHB) yang termasuk dalam golongan Hepadna viridae, yaitu golongan virus yang hanya dapat menginfeksi manusia dan simpanse.

Virus Penyebab Hepatitis B

Virus Penyebab Hepatitis B

Penyebab Penyakit Hepatitis B

Virus Penyebab Hepatitis B merupakan virus DNA berukuran 42 nm, terdiri atas inti pusat yang dikelilingi lapisan lipoprotein yang berisi antigen permukaan VHB (HBsAg). Jika dalam darah terdeteksi HBsAg, berarti positif terinfeksi VHB.

Virus Penyebab Hepatitis B stabil dalam darah, plasma dan serum serta dapat bertahan lama di luar tubuh manusia dalam berbagai tingkat kelembapan udara dan temperatur yang tinggi. Virus hepatitis B sangat menular bahkan 100 kali lebih mudah menular dibandingkan dengan virus HIV.

Saat ini di Indonesia, penyakit hepatitis B termasuk dalam kelompok 10 besar penyakit penyebab kematian. Angka kejadian penyakit hepatitis B di Indonesia merupakan yang tertinggi di antara jenis hepatitis lainnya. Hal ini disebabkan kesadaran masyarakat untuk melakukan vaksinasi penyakit hepatitis B masih rendah. Menurut Ketua Pokja Hepatitis, Prof. dr. Ali Sulaiman, virus hepatitis B diperkirakan telah menginfeksi sekitar 11,6 juta orang penduduk Indonesia. Jumlah tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga setelah China dan India dengan jumlah penduduk terbanyak yang terinfeksi hepatitis B.

Sebagian besar infeksi Virus Penyebab Hepatitis B yang menetap timbul sebagai akibat infeksi pada waktu bayi atau anak-anak. Infeksi pada bayi terjadi pada saat persalinan dari yang mengidap HBsag. Infeksi hepatitis B berkembang menjadi kronis berbanding terbalik dengan usia. Semakin muda usia terkena infeksi penyakit hepatitis B maka semakin besar kemungkinan menjadi kronis. Sekitar 90% bayi yang terinfeksi pada proses kelahiran berlanjut menjadi infeksi hepatitis kronis, pada anak-anak yang lebih besar menurun menjadi 20-30% sedangkan pada orang dewasa hanya sekitar 5-10% yang berkembang menjadi kronis.

Hingga saat ini memang penyakit hepatitis B belum bisa disembuhkan secara total,  namun ketersediaan dari pengobatan dan proses untuk membantu mengendalikan virus ini masih bisa dilakukan. Pengobatan yang dilakukan akan membantu untuk menurunkan kerusakan yang terjadi pada hati dan juga untuk membantu mengurangi resiko dari terjadinya penyakit kanker hati. Pengobatan ini juga bisa memberikan bantuan pada hati dalam memperbaiki sendiri kerusakan yang terjadi. Dokter biasanya akan memberitahukan kepada Anda jika Anda memang membutuhkan pengobatan lebih lanjut. Oleh karena itulah Anda sangat perlu mengunjungi dokter dengan rutin dan teratur.

Pengobatan Penyakit Hepatitis B

Jika Anda memang membutuhkan pengobatan, maka dokter Anda biasanya akan memberikan suatu referensi pada dokter spesialis hati. Dokter spesialis hati yang akan memberitahukan dan menjelaskan kepada Anda mengenai pengobatan apa yang tersedia dan tepat untuk Anda. Selain itu juga Anda harus mengunjungi dokter spesialis dengan teratur dan rutin, jika Anda sudah mulai untuk menjalankan suatu pengobatan. Maka hal ini berarti sangat penting untuk terus minum obat yang diresepkan setelah Anda memulainya. Apabila Anda mempunyai suatu masalah yang terjadi dengan pengobatan yang Anda lakukan maka sebaiknya jangan berhenti untuk melakukannya. Diskusikanlah dengan dokter Anda mengenai hal yang Anda rasakan.

Sebaiknya jelaskanlah pada dokter yang menangani Anda dan jika Anda menggunakan pemakaian obat herbal penyakit hati, atau juga jenis obat-obatan lainnya yang alami mempengaruhi keadaan pada hati Anda atau menghentikan pengobatan agar bisa bekerja dengan lebih baik lagi. Dokter biasanya akan memberitahukan mengenai ramuan dan juga obat tradisional yang harus Anda hindari pemakaiannya.

Dibawah ini beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penyebaran dari penyakit hepatitis B adalah ;

  1. Sebaiknya hindarilah hubungan seksual atau hubungan langsung dengan darah misalnya adalah jangan memakai pakaian yang sama dengan orang lain, jangan memakai cukur, sikat gigi serta barang-barang pribadi lainnya milik orang lain.
  2. Tutuplah semua luka yang terbuka dan Anda bisa membersihkan segela tumpahan darah dengan menggunakan bleach. Sebaiknya jangan biarkan orang bisa menyentuh luka atau juga darah Anda kecuali jika mereka menggunakan sarung tangan.
  3. Buanlah pembalit, perban, panty liner kedalam kantung plastik yang tertutup
  4. Saat sedang melakukan hubungan seksual, maka Anda bisa menggunakan kondom atau juga menggunakan cairan pelumas.
  5. Jangajn memakai dengan bersamaan penggunaan dari jarum suntik atau juga alat makan untuk jenis narkotika intravena.

Pemberian dari vaksin imunisasi dan dosisnya harus diberikan dengan cara intramuskular pada otot deltoid untuk orang dewasa. Pada orang dewasa dengan imunogenisitas vaksin biasanya akan berkurang jika vaksin yang disuntikkan pada gluteus. Panjang dari jarum yang digunakan sebaiknya adalah sekitar 1-1,5 inci untuk membantu memastikan vaksin bisa masuk ke dalam jaringan otot. Penyuntikkan dari vaksin dengan cara intradermal tidak dianjurkan, hal ini dikarenakan imunogenisitas pada usia yang lebih muda lebih rendah.

Selain itu juga respons antibodi yang terjadi tidak konsisten pada orang tua, dan kurangnya peerjalanan dari pengalaman pada tenaga medis dalam memberikan suntikan intradermal dan juga data tentang efektivitas jangka panjang yang kurang. Pemberian jenis vaksin penyakit hepatitis B diberikan dalam 3 dosis di bulan ke-0, bulan ke-1 dan bulan ke-6. Pemberian dua dosis pertama adalah dosis yang sangat penting untuk bisa membentuk antibodi. Dosis yang ketiga bisa diberikan dalam mencapai kadar antibodi anti-HBs yang sangat tinggi.

Virus Penyebab Hepatitis B

Posted in Penyakit Hepatitis B | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment